Muharram di Balik Jeruji: Saatnya Berhijrah, Bukan Berputus Asa
Ketika Saksi Telah Berbicara, Kini Publik Menanti Putusan Hakim
Pengadilan Agama Tembilahan Gelar Sidang di Pulau Ruku
Muharram di Balik Jeruji: Saatnya Berhijrah, Bukan Berputus Asa
SIBERONE.COM - Bulan Muharram selalu datang membawa pesan yang sangat kuat bagi setiap muslim. Ia bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriah, melainkan momentum untuk melakukan evaluasi diri, memperbarui niat, dan menata kembali arah kehidupan.
Bagi siapa pun, Muharram adalah awal yang baru. Namun, bagi mereka yang sedang menjalani pembinaan di lembaga pemasyarakatan (Lapas), Muharram memiliki makna yang jauh lebih mendalam: kesempatan untuk berhijrah dari masa lalu menuju masa depan yang lebih baik.
Allah Swt. telah menempatkan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan yang dimuliakan. Firman-Nya:
"Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ada dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu." (QS. At-Taubah: 36).
Kemuliaan Muharram mengajarkan bahwa setiap amal kebaikan memiliki nilai yang besar di sisi Allah. Sebaliknya, setiap bentuk kemaksiatan hendaknya semakin dijauhi. Karena itu, Muharram adalah saat yang tepat untuk memulai perubahan, bukan sekadar mengganti angka tahun.
Sering kali masyarakat memandang seseorang dari kesalahan yang pernah dilakukannya. Padahal, Islam mengajarkan bahwa manusia bukanlah makhluk yang bebas dari dosa. Rasulullah saw. bersabda:
"Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat." (HR. Tirmidzi).
Hadis ini memberikan harapan bahwa tidak ada manusia yang tertutup pintu ampunan Allah. Kesalahan masa lalu tidak harus menjadi identitas yang melekat seumur hidup. Yang lebih penting adalah kesungguhan untuk memperbaiki diri.
Dalam konteks kehidupan di Lapas, makna hijrah menjadi sangat relevan. Hijrah yang dimaksud bukan sekadar perpindahan fisik sebagaimana peristiwa hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Rasulullah justru memberikan makna yang lebih luas:
"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah." (HR. Bukhari).
Dengan demikian, hijrah sejati adalah perubahan karakter, perubahan cara berpikir, dan perubahan perilaku. Seseorang mungkin masih berada di balik tembok Lapas, tetapi apabila hatinya telah dekat kepada Allah, ia sejatinya sedang menempuh perjalanan hijrah yang sesungguhnya.
Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup bebas di luar penjara, tetapi sesungguhnya masih menjadi tawanan hawa nafsu, keserakahan, kebencian, dan berbagai bentuk kemaksiatan. Kebebasan fisik tidak selalu berarti kebebasan jiwa. Oleh karena itu, ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah bukanlah di mana ia berada, melainkan bagaimana kualitas ketakwaannya.
Salah satu ayat Al-Qur'an yang paling menenteramkan hati adalah firman Allah:
"Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53).
Ayat ini adalah deklarasi kasih sayang Allah kepada seluruh hamba-Nya. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama pintu taubat masih terbuka dan seseorang sungguh-sungguh ingin kembali kepada-Nya.
Muharram juga identik dengan hari Asyura, tanggal 10 Muharram. Pada hari itu Rasulullah saw. menganjurkan umat Islam untuk berpuasa. Beliau bersabda:
"Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim).
Pesan spiritual dari hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam selalu membuka ruang bagi manusia untuk memperbaiki masa lalunya melalui amal-amal saleh. Tidak ada perjalanan hidup yang sepenuhnya gelap apabila seseorang masih memiliki tekad untuk berubah.
Karena itu, masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kesempatan kedua kepada mereka yang telah menjalani proses pembinaan. Sistem pemasyarakatan di Indonesia pada hakikatnya bukan hanya memberikan hukuman, tetapi juga membentuk manusia agar kembali menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan negara. Keberhasilan pembinaan tidak hanya ditentukan oleh penghuni Lapas, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat menerima mereka kembali tanpa stigma yang berlebihan.
Muharram akhirnya mengajarkan satu pelajaran penting: setiap manusia memiliki masa lalu, tetapi tidak seorang pun boleh kehilangan masa depan. Selama masih ada kesempatan untuk bertaubat, selama masih ada kemauan untuk memperbaiki diri, maka harapan itu tetap hidup.
Semoga Muharram tahun ini menjadi momentum hijrah bagi kita semua; hijrah dari kezaliman menuju keadilan, dari keputusasaan menuju harapan, dari dosa menuju taubat, dan dari kehidupan yang jauh dari Allah menuju kehidupan yang penuh keberkahan. Sebab, pada akhirnya, manusia terbaik bukanlah mereka yang tidak pernah salah, melainkan mereka yang memiliki keberanian untuk kembali kepada Allah dengan hati yang bersih dan tekad yang kuat.
Oleh: Dr. Junaidi, S.H., M.Hum.


Berita Lainnya
Kasus suap kader PDIP, KPK geledah kantor PT MMS
Seleksi Pemimpin Daerah, Lepaskan Sejenak Jebakan Politik Popularitas, Identitas dan Pundi Modal
Membangun Generasi Pemimpin
Disbun Inhil Mulai Merealisasikan Program Kelapa Terpadu
Diisukan Maju Pilkades Mekar Sari Kecamatan Reteh, Ini Kata H Abdul Hafidz
Pasca Rampok di Laut, Edi Sindrang: Pelabuhan di Inhil Selayaknya Gunakan CCTV dan Data e-KTP
Kasus suap kader PDIP, KPK geledah kantor PT MMS
Seleksi Pemimpin Daerah, Lepaskan Sejenak Jebakan Politik Popularitas, Identitas dan Pundi Modal
Membangun Generasi Pemimpin
Disbun Inhil Mulai Merealisasikan Program Kelapa Terpadu
Diisukan Maju Pilkades Mekar Sari Kecamatan Reteh, Ini Kata H Abdul Hafidz
Pasca Rampok di Laut, Edi Sindrang: Pelabuhan di Inhil Selayaknya Gunakan CCTV dan Data e-KTP