Bank Mini Syariah STAI Auliaurrasyidin Potong Dua Ekor Sapi Kurban
Suara Mak dalam Buaian: Ruang Pemikiran dari Nyanyian Dodoi Anakku Sayang
Penertiban Aset dan Pajak Daerah Jadi Fokus Kerja Sama Pemkab Inhil–Kejari
Suara Mak dalam Buaian: Ruang Pemikiran dari Nyanyian Dodoi Anakku Sayang
SIBERONE.COM - Bagi masyarakat Melayu, tidur bukan sekadar waktu untuk melepas lelah setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam kehidupan keluarga Melayu, terutama di kawasan pesisir Indragiri Hilir, malam justru menjadi ruang yang hangat untuk menanamkan nilai kehidupan kepada anak sejak usia dini. Dari rumah-rumah panggung yang berdiri di tepian sungai dan parit, suara seorang mak yang mendodoi anak di dalam buaian menjadi bagian akrab dalam ingatan masyarakat. Ayunan yang bergerak perlahan diiringi lantunan suara lembut menghadirkan suasana penuh kasih sayang dan ketenangan. Namun, suara itu tidak hanya berfungsi sebagai nyanyian pengantar tidur, melainkan juga menjadi medium penyampaian doa, harapan, nasihat, dan nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi Dodoi Anakku Sayang merupakan salah satu bentuk budaya lisan masyarakat Melayu yang hidup dan berkembang dalam lingkungan keluarga. Melalui syair-syair sederhana yang dinyanyikan secara berulang, seorang ibu menyampaikan harapan agar anaknya tumbuh sehat, berbudi pekerti baik, menghormati orang tua, rajin beribadah, serta kelak menjadi manusia yang berguna bagi keluarga dan masyarakat. Dalam konteks ini, suara mak yang terdengar dari tepi buaian tidak hanya menghadirkan rasa nyaman bagi anak, tetapi juga menjadi ruang pendidikan pertama dalam kehidupan masyarakat Melayu. Tradisi mendodoi menunjukkan bahwa proses pendidikan dalam budaya Melayu sesungguhnya dimulai dari rumah, dari pelukan seorang ibu, dan dari suara lembut yang mengiringi tidur anaknya setiap malam. Tradisi ini tumbuh dalam kehidupan masyarakat Melayu Indragiri Hilir, Provinsi Riau, yang dikenal sebagai wilayah pesisir dengan kehidupan yang dekat dengan sungai, rawa, dan kawasan perairan. Kondisi geografis tersebut membentuk pola kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi hubungan kekeluargaan dan tradisi lisan. Dalam suasana malam kampung pesisir yang tenang, suara dodoi kerap berpadu dengan desir angin dan aliran air parit yang bergerak perlahan. Dari suasana seperti itulah ruang kebudayaan Melayu hidup secara alami di tengah keseharian masyarakat. Dodoi tidak hadir sebagai pertunjukan kesenian semata, melainkan sebagai bagian dari praktik kehidupan keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam kajian budaya, dodoi dapat dipahami sebagai bentuk sastra lisan yang memiliki fungsi sosial, pendidikan, sekaligus spiritual. Tradisi lisan dalam masyarakat Melayu menjadi sarana penting dalam proses pewarisan nilai dan pengetahuan antargenerasi. Berbagai bentuk tuturan seperti pantun, syair, dan lagu tradisional digunakan untuk menjaga keberlangsungan identitas budaya masyarakat. Oleh sebab itu, Dodoi Anakku Sayang tidak hanya dipandang sebagai lagu pengantar tidur, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter anak sejak usia dini. Tradisi ini memperlihatkan bahwa pendidikan dalam masyarakat Melayu tidak hanya berlangsung melalui lembaga formal, tetapi juga hidup dalam praktik budaya sehari-hari yang sarat makna.
Dodoi sebagai Warisan Lisan
Di tengah perkembangan zaman, keberadaan tradisi dodoi mulai menghadapi tantangan yang cukup besar. Arus modernisasi, perkembangan teknologi digital, dan perubahan pola hidup masyarakat perlahan memengaruhi keberlangsungan budaya lisan Melayu. Penggunaan bahasa daerah yang semakin berkurang dalam lingkungan keluarga menyebabkan tradisi mendodoi anak mulai jarang dilakukan. Jika dahulu suara seorang mak yang melantunkan dodoi menjadi bagian akrab dari kehidupan malam masyarakat Melayu, kini suasana tersebut perlahan tergantikan oleh televisi, telepon genggam, dan berbagai media digital lainnya. Anak-anak lebih sering diperkenalkan pada lagu-lagu modern melalui perangkat elektronik dibandingkan mendengar langsung suara ibu mereka sendiri.
Fenomena tersebut memperlihatkan adanya kekhawatiran terhadap semakin melemahnya proses pewarisan budaya lisan kepada generasi muda. Tradisi yang sebelumnya hidup secara alami dalam kehidupan keluarga kini mulai kehilangan ruang di tengah masyarakat modern. Padahal, tradisi lisan seperti dodoi memiliki fungsi yang jauh lebih mendalam dibandingkan sekadar hiburan atau pengantar tidur. Dodoi Anakku Sayang merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Melayu Indragiri Hilir yang mengandung nilai pendidikan, moral, sosial, dan religius. Tradisi ini mencerminkan cara masyarakat Melayu membangun hubungan keluarga, mendidik anak, serta mewariskan nilai kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam kehidupan masyarakat Melayu Indragiri Hilir, dodoi menjadi bentuk komunikasi emosional pertama antara ibu dan anak. Suara lembut seorang mak yang mendodoi menghadirkan rasa aman, ketenangan, dan kedekatan batin yang kuat. Sejak masih berada di dalam buaian, seorang anak mulai mengenal bahasa ibunya, mendengar irama Melayu, dan merasakan kasih sayang yang disampaikan melalui nada serta syair. Oleh karena itu, dodoi dapat dipahami sebagai bagian penting dari proses pembentukan karakter anak sejak usia dini. Sebagai warisan lisan, Dodoi Anakku Sayang memiliki ciri khas tersendiri. Dodoi biasanya dilantunkan menggunakan dialek Melayu setempat dengan irama yang lembut, perlahan, dan berulang. Kesederhanaan syair dan nadanya justru memperlihatkan kedekatan tradisi ini dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu. Setiap bait mengandung doa, nasihat, dan harapan yang lahir dari pengalaman hidup masyarakat. Melalui dodoi, seorang ibu berharap anaknya tumbuh sehat, panjang umur, berakhlak baik, menghormati orang tua, rajin beribadah, dan berguna bagi masyarakat. Dengan demikian, dodoi bukan hanya berfungsi menenangkan anak, tetapi juga menjadi media pendidikan awal yang diwariskan secara alami dalam lingkungan keluarga.
Nilai religius juga menjadi unsur penting dalam tradisi ini. Dalam banyak syair dodoi, terselip ajaran tentang keimanan, doa kepada Tuhan, dan harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang taat kepada ajaran Islam. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam kehidupan masyarakat Melayu, adat dan agama berjalan berdampingan serta saling menguatkan. Pendidikan agama tidak hanya diberikan melalui lembaga formal, tetapi juga ditanamkan sejak dini melalui tradisi lisan dalam keluarga. Melalui suara mak yang mendodoi anak di dalam buaian, nilai-nilai spiritual diperkenalkan secara lembut dan penuh kasih sayang. Menariknya, tradisi dodoi juga memperlihatkan pandangan hidup masyarakat Melayu yang menjunjung tinggi kelembutan dan kesantunan dalam mendidik anak. Dalam budaya Melayu, pendidikan tidak dilakukan melalui kekerasan atau paksaan, melainkan melalui pendekatan yang halus dan penuh kasih. Nada yang tenang, ayunan buaian yang perlahan, serta pilihan kata yang lembut menjadi simbol cara masyarakat Melayu membangun kedekatan emosional dengan anak. Melalui dodoi, seorang ibu tidak hanya menidurkan anaknya, tetapi juga menanamkan rasa aman, cinta, dan penghargaan terhadap sesama manusia.
Perempuan sebagai Ruang Ingatan Budaya Melayu
Dalam kehidupan masyarakat Melayu, perempuan memiliki posisi penting dalam menjaga keberlangsungan budaya. Perempuan tidak hanya dipandang sebagai pengasuh anak dan pengelola rumah tangga, tetapi juga sebagai penjaga nilai, pewaris tradisi, dan ruang hidup bagi ingatan budaya masyarakat. Hal tersebut tampak jelas dalam tradisi Dodoi Anakku Sayang, ketika sosok ibu menjadi pusat berlangsungnya pewarisan budaya lisan kepada generasi berikutnya. Melalui suara mak yang mengalun dari tepi buaian, Mak sesungguhnya sedang menjalankan peran budaya yang sangat besar: memperkenalkan bahasa, adat, nilai kehidupan, dan pandangan hidup Melayu kepada anak sejak usia dini. Ketika seorang mak melantunkan dodoi, ia tidak sekadar menyanyikan lagu pengantar tidur, melainkan juga menghadirkan kembali nilai-nilai yang diwarisinya dari generasi sebelumnya. Lirik-lirik sederhana yang dinyanyikan menjadi sarana untuk menyampaikan doa, nasihat, dan harapan tentang kehidupan.
Perempuan dalam tradisi Melayu dapat dipahami sebagai “ruang ingatan budi”. Melalui tubuh, suara, bahasa, dan pengalaman hidupnya, seorang ibu menyimpan sekaligus meneruskan ingatan kolektif. Dalam nyanyian dodoi terkandung berbagai unsur budaya, mulai dari penggunaan dialek daerah, cara bertutur yang santun, nilai religius, hingga pandangan masyarakat tentang keluarga dan pendidikan anak. Dari suara ibunya, seorang anak mulai mengenal identitas budayanya sendiri. Tradisi Dodoi Anakku Sayang menunjukkan bahwa budaya lisan hanya dapat hidup apabila terus dituturkan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada konteks ini, ibu menjadi tokoh utama yang menjaga keberlangsungan tradisi tersebut di lingkungan keluarga. Melalui kebiasaan mendodoi anak, perempuan Melayu secara tidak langsung sedang merawat identitas masyarakatnya sendiri. Ia tidak hanya mewariskan lagu, tetapi juga menanamkan bahasa, nilai kesopanan, kasih sayang, dan pandangan hidup yang menjadi ciri budaya Melayu.
Namun, di tengah perkembangan zaman, posisi perempuan sebagai ruang ingatan budaya mulai menghadapi tantangan. Kehadiran teknologi digital dan perubahan pola pengasuhan anak membuat tradisi lisan seperti dodoi perlahan mulai ditinggalkan. Banyak keluarga kini lebih memilih media elektronik untuk menidurkan anak dibandingkan melantunkan dodoi secara langsung. Anak-anak lebih akrab dengan suara dari perangkat digital dibandingkan suara ibu mereka sendiri. Kondisi tersebut perlahan mengurangi ruang interaksi emosional dalam keluarga sekaligus melemahkan proses pewarisan budaya lisan Melayu. Jika keadaan ini terus berlangsung, generasi mendatang mungkin hanya mengenal dodoi sebagai cerita masa lalu tanpa pernah merasakan langsung kehangatan dan nilai yang terkandung di dalamnya. Padahal, hilangnya tradisi dodoi bukan hanya berarti hilangnya sebuah lagu pengantar tidur, tetapi juga hilangnya salah satu ruang penting tempat budaya Melayu diwariskan dalam kehidupan keluarga.
Buaian, Nilai, dan Kehidupan Melayu Pesisir
Dalam kehidupan masyarakat Melayu pesisir, buaian bukan sekadar tempat menidurkan anak, melainkan ruang pertama tempat nilai kehidupan diperkenalkan. Di rumah-rumah panggung yang berdiri di tepian sungai dan parit, buaian menjadi bagian akrab dari kehidupan keluarga Melayu Indragiri Hilir. Diiringi suara mak yang mendodoi, buaian menghadirkan suasana hangat yang penuh kasih sayang. Dari buaian itulah seorang anak mulai mengenal suara ibunya, mendengar bahasa Melayu untuk pertama kalinya, dan merasakan kedekatan emosional yang menjadi dasar hubungan keluarga dalam budaya Melayu. Bagi masyarakat Melayu, kehidupan keluarga dibangun di atas nilai kebersamaan dan kedekatan batin. Suasana malam di kampung-kampung pesisir yang tenang, ditemani semilir angin dan suara air parit yang mengalir perlahan, menjadi ruang hidup bagi tradisi dodoi. Dalam suasana seperti itu, suara mak yang mendodoi anak menghadirkan ketenangan sekaligus menjadi bagian dari denyut budaya masyarakat. Tradisi ini lahir secara alami dari kehidupan sehari-hari dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas masyarakat Melayu pesisir.
Tradisi Dodoi Anakku Sayang memperlihatkan bahwa masyarakat Melayu memiliki cara yang lembut dalam mendidik anak. Pendidikan tidak dimulai melalui aturan yang keras atau nasihat yang memaksa, tetapi melalui kedekatan batin yang dibangun sejak anak masih berada di dalam buaian. Dalam setiap lantunan dodoi, terdapat pesan moral tentang pentingnya menghormati orang tua, hidup dengan sopan santun, rajin beribadah, dan menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat. Dengan kata lain, buaian menjadi ruang pendidikan pertama dalam kehidupan anak Melayu.
Selain menjadi ruang pendidikan, buaian juga memiliki makna simbolik dalam kehidupan masyarakat Melayu pesisir. Buaian melambangkan perlindungan, kasih sayang, dan harapan orang tua terhadap masa depan anaknya. Ketika seorang ibu mengayunkan buaian sambil melantunkan dodoi, sesungguhnya ia sedang membangun ikatan emosional yang kuat dengan anaknya. Kedekatan seperti inilah yang menjadi fondasi kehidupan keluarga Melayu. Namun, perkembangan zaman perlahan mengubah suasana kehidupan masyarakat Melayu pesisir. Kehadiran teknologi digital dan perubahan gaya hidup modern membuat tradisi mendodoi anak mulai jarang dilakukan. Banyak keluarga kini lebih memilih menggunakan televisi, telepon genggam, atau musik digital untuk menemani anak tidur dibandingkan melantunkan dodoi secara langsung. Padahal, hilangnya tradisi dodoi bukan sekadar hilangnya sebuah lagu pengantar tidur. Lebih dari itu, yang ikut memudar adalah ruang kebersamaan, sentuhan kasih sayang, serta nilai kemanusiaan yang hidup di dalam tradisi tersebut.
Tradisi lisan seperti dodoi memiliki kekuatan emosional yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Suara mak dalam buaian menghadirkan rasa aman dan cinta yang tumbuh secara langsung antara ibu dan anak. Tradisi ini memperlihatkan bahwa kebudayaan Melayu hidup dalam hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Budaya tidak selalu hadir dalam bentuk pertunjukan besar, tetapi juga tumbuh dalam ruang keluarga yang sederhana. Pada akhirnya, Dodoi Anakku Sayang mengajarkan bahwa budaya sejatinya hidup dalam keseharian masyarakat, tumbuh dari kasih sayang seorang ibu, dan bertahan melalui ingatan yang diwariskan secara lisan. Selama suara mak masih terdengar mengiringi buaian anaknya, selama itu pula nilai-nilai budaya Melayu Indragiri Hilir akan tetap hidup dan bernapas di tengah perubahan zaman.
Narasumber: Mak Long Murni, 75 Tahun (Concong), Mak Itam, 64 Tahun (Concong), dan Pak Cik Umar, 73 Tahun (Concong).
Oleh: Cand. Dr. Selviani, S. Pd., M. Pd. E. (Ketua Peneliti)
Selviani adalah akademisi, pegiat budaya, dan literasi asal Indragiri Hilir, Riau. Aktif melestarikan budaya Melayu melalui pendidikan, penelitian, dan edukasi masyarakat, serta mendirikan gerakan literasi berbasis komunitas. Saat ini bertugas sebagai Dosen Program Studi Ekonomi Syariah di STAI Auliaurrasyidin Tembilahan dan sedang menempuh pendidikan doktoral di Universitas Riau. Beberapa karyanya telah terbit dalam bentuk buku, antologi, dan artikel ilmiah di berbagai media massa.


Berita Lainnya
Kasus suap kader PDIP, KPK geledah kantor PT MMS
Seleksi Pemimpin Daerah, Lepaskan Sejenak Jebakan Politik Popularitas, Identitas dan Pundi Modal
Membangun Generasi Pemimpin
Disbun Inhil Mulai Merealisasikan Program Kelapa Terpadu
Diisukan Maju Pilkades Mekar Sari Kecamatan Reteh, Ini Kata H Abdul Hafidz
Pasca Rampok di Laut, Edi Sindrang: Pelabuhan di Inhil Selayaknya Gunakan CCTV dan Data e-KTP
Kasus suap kader PDIP, KPK geledah kantor PT MMS
Seleksi Pemimpin Daerah, Lepaskan Sejenak Jebakan Politik Popularitas, Identitas dan Pundi Modal
Membangun Generasi Pemimpin
Disbun Inhil Mulai Merealisasikan Program Kelapa Terpadu
Diisukan Maju Pilkades Mekar Sari Kecamatan Reteh, Ini Kata H Abdul Hafidz
Pasca Rampok di Laut, Edi Sindrang: Pelabuhan di Inhil Selayaknya Gunakan CCTV dan Data e-KTP