Kehidupan Akhirat bagi Hamba Allah yang Beramal Saleh
SIBERONE.COM - Kehidupan dunia yang kita jalani saat ini hanyalah sebuah persinggahan yang sementara. Betapa pun panjang umur seseorang, pada akhirnya ia akan sampai pada satu titik yang tidak mungkin dihindari, yaitu kematian. Tidak ada manusia yang mampu menawar ajal, tidak ada kekayaan yang dapat membeli tambahan usia, dan tidak ada jabatan yang dapat menghalangi datangnya kematian. Semua akan kembali kepada Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal yang telah dilakukan selama hidup di dunia.
Karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupannya. Dunia hanyalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen hasil dari apa yang telah ditanam. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan bagaimana kehidupan kita kelak di hadapan Allah SWT.
Allah SWT mengingatkan:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok (akhirat)." (QS. Al-Hasyr: 18).
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap hari sejatinya adalah kesempatan untuk mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal. Bekal itu bukanlah harta yang ditumpuk, bukan pula popularitas yang dikejar, melainkan iman, ketakwaan, dan amal saleh yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Allah SWT juga berfirman:
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali 'Imran: 185).
Ayat tersebut memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Ukuran keberhasilan hidup menurut Allah bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, ataupun luasnya pengaruh seseorang. Kesuksesan yang hakiki adalah ketika seseorang diselamatkan dari siksa neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Itulah kemenangan yang sesungguhnya.
Rasulullah SAW bahkan memberikan ukuran tentang siapa manusia yang benar-benar cerdas. Beliau bersabda:
"Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian." (HR. At-Tirmidzi).
Kecerdasan dalam Islam bukan hanya diukur dari kemampuan berpikir, gelar akademik, atau prestasi duniawi. Kecerdasan sejati adalah kemampuan mengendalikan hawa nafsu, menjaga diri dari perbuatan dosa, serta mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan setelah kematian.
Allah SWT telah menjanjikan balasan yang luar biasa bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Firman-Nya:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka disediakan Surga Firdaus sebagai tempat tinggal." (QS. Al-Kahfi: 107).
Dalam ayat lain Allah berfirman:
"Tidak seorang pun mengetahui berbagai kenikmatan yang disembunyikan untuk mereka sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 17).
Janji Allah ini kemudian dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis qudsi:
"Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia." (HR. Bukhari dan Muslim).
Kenikmatan surga tidak dapat dibandingkan dengan seluruh kenikmatan dunia. Apa yang dinikmati manusia di dunia hanyalah gambaran yang sangat kecil dibandingkan dengan kebahagiaan yang Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang taat.
Pertanyaannya, apakah amal saleh hanya terbatas pada salat, puasa, zakat, dan ibadah ritual lainnya? Jawabannya tentu tidak. Amal saleh mencakup seluruh aktivitas yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Seorang pedagang yang jujur sedang beramal saleh. Seorang pemimpin yang adil sedang beramal saleh. Seorang guru yang mendidik dengan penuh keikhlasan sedang beramal saleh. Orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai Islam juga sedang beramal saleh. Bahkan senyum, membantu sesama, menjaga amanah, menjauhi korupsi, tidak menyebarkan fitnah, serta menjaga lisan dari menyakiti orang lain merupakan bagian dari amal saleh yang bernilai ibadah.
Di tengah kehidupan modern yang sering mengukur keberhasilan dengan materi dan popularitas, seorang mukmin harus tetap menjadikan akhirat sebagai orientasi utama. Harta hanyalah titipan, jabatan hanyalah amanah, sedangkan amal salehlah yang akan menjadi teman setia ketika kita memasuki alam kubur.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang senantiasa memperbanyak amal saleh, diberi keistiqamahan hingga akhir hayat, diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah, serta dikumpulkan bersama orang-orang yang beriman di Surga Firdaus. Aamiin.
Oleh: Dr. Junaidi, S.H.I., M.Hum.
Dosen, Pemerhati Sosial RiauRiau


Berita Lainnya
Isuzu: Sekarang Waktu yang Pas Bangun Pabrik
PPP Sambangi Panti Asuhan dan Rumah Sakit di Hari Ultah ke 47
Hadir di Desa Tanjung Baru, Bupati Inhil Meneteskan Air Mata
Hadir di Desa Bantayan, Abd Wahid Ajak Masyarakat Tanamkan Nilai Al-Qur'an
MIN Tembilahan Laksanakan Isra Mi'raj dan Khatam Al-Qur'an
Bupati Wardan Nyatakan di Kabupaten Inhil Tidak Ada Larangan Sholat di Masjid
Isuzu: Sekarang Waktu yang Pas Bangun Pabrik
PPP Sambangi Panti Asuhan dan Rumah Sakit di Hari Ultah ke 47
Hadir di Desa Tanjung Baru, Bupati Inhil Meneteskan Air Mata
Hadir di Desa Bantayan, Abd Wahid Ajak Masyarakat Tanamkan Nilai Al-Qur'an
MIN Tembilahan Laksanakan Isra Mi'raj dan Khatam Al-Qur'an
Bupati Wardan Nyatakan di Kabupaten Inhil Tidak Ada Larangan Sholat di Masjid