
FGD di Unisi Angkat Pelestarian Sastra Lisan Dodoi Anakku Sayang
SIBERONE.COM — Upaya melestarikan sastra lisan Melayu terus dilakukan melalui kegiatan _Focus Group Discussion_ (FGD) Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro bertema “Dodoi Anakku Sayang: Sastra Lisan sebagai Ruang Kontemplasi Masyarakat Melayu Indragiri Hilir” yang diselenggarakan melalui kerja sama kementerian kebudayaan, Dana Indonesiana dan LPDP. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Peradilan Semu Universitas Islam Indragiri (Unisi) pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi dan refleksi bersama untuk menggali nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi _Dodoi Anakku Sayang_, sekaligus mendorong pelestariannya agar tetap dikenal, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi muda.
FGD tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Cand. Dr. Selviani, S.Pd., M.Pd.E., Dr. H. Assoc. Prof. Najamuddin, Lc., M.A., serta Dr. Junaidi, S.H.I., M.Hum. Kegiatan dibuka langsung oleh Rektor Universitas Islam Indragiri, Dr. H. Assoc. Prof. Najamuddin, Lc., M.A., yang memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan forum tersebut.
Menurutnya, kegiatan semacam ini memiliki arti penting dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya lokal, khususnya sastra lisan _Dodoi Anakku Sayang_, agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman dan tetap dekat dengan kehidupan generasi muda.
Ketua Penanggung Jawab Program, Redovan Jamil, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan kegelisahan terhadap kemungkinan hilangnya tradisi tersebut apabila tidak diikuti dengan upaya pewarisan yang berkelanjutan.
“Saya khawatir, suatu hari nanti, kita masih mengenal nama Dodoi Anakku Sayang, tetapi tidak lagi menemukan orang yang mampu menyanyikannya. Kita mungkin masih dapat membaca catatannya, tetapi tidak lagi mendengar suara yang mewariskannya,” ungkap Redovan.
Ia menjelaskan, sastra lisan Melayu Riau, termasuk tradisi _Dodoi Anakku Sayang_, menghadapi tantangan di tengah perubahan pola pengasuhan, perkembangan teknologi, serta semakin berkurangnya kedekatan generasi muda dengan tradisi budaya mereka.
Padahal, pada masa lalu, tradisi dodoi hidup dalam keseharian masyarakat. Nyanyian tersebut mengiringi buaian anak dan diwariskan secara turun-temurun melalui suara ibu serta anggota keluarga. Lebih dari sekadar pengantar tidur, dodoi menjadi bagian dari proses pengasuhan yang sarat dengan kasih sayang, nilai kehidupan, dan kearifan lokal.
Redovan menegaskan bahwa upaya pelestarian budaya tidak seharusnya hanya dibebankan kepada generasi muda. Menurutnya, masyarakat dan para pemangku kepentingan juga perlu melakukan introspeksi mengenai sejauh mana warisan budaya telah diperkenalkan dan dihadirkan secara bermakna dalam kehidupan anak-anak muda.
“Jangan-jangan, persoalannya bukan semata-mata generasi muda yang kehilangan minat, melainkan kita yang belum cukup sungguh-sungguh menghadirkan kebudayaan sebagai sesuatu yang dekat, relevan, dan bermakna bagi kehidupan mereka,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Redovan juga menekankan pentingnya spiritualitas sebagai salah satu landasan dalam memaknai ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Ia memandang kebudayaan sebagai manifestasi nilai-nilai spiritual suatu bangsa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baginya, mempelajari alam semesta dan melestarikan budaya bukan hanya kegiatan akademis, melainkan juga ikhtiar mulia untuk menjaga nilai-nilai kehidupan yang telah membentuk identitas masyarakat.
“Atas dasar itu, Dodoi Anakku Sayang bukan sekadar nyanyian pengantar tidur. Ia adalah budaya yang harus kita jaga. Dodoi Anakku Sayang adalah madrasah pertama dalam kehidupan seorang anak,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tradisi dodoi memiliki makna yang lebih luas daripada fungsi hiburan. Di dalamnya terdapat ruang pembelajaran awal bagi anak untuk mengenal kasih sayang, kedekatan emosional, nilai-nilai kehidupan, serta identitas budaya yang tumbuh dari lingkungan keluarga.
Kegiatan FGD ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari dosen, guru, pegiat literasi, komunitas budaya, wartawan, mahasiswa, Amulet Unisi, siswa sekolah menengah atas (SMA), hingga masyarakat umum yang memiliki kecintaan terhadap kebudayaan.
Kehadiran peserta dari beragam latar belakang tersebut menunjukkan bahwa pelestarian sastra lisan membutuhkan keterlibatan bersama, baik dari lingkungan akademik, keluarga, komunitas budaya, maupun masyarakat luas.
Melalui forum ini, dokumentasi karya dan pengetahuan maestro diharapkan tidak berhenti sebagai catatan tertulis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat Melayu Indragiri Hilir. Tradisi _Dodoi Anakku Sayang_ diharapkan tetap hidup melalui pengenalan, pembelajaran, pendokumentasian, dan pewarisan antargenerasi.
Sebab, ketika sebuah tradisi lisan kehilangan penutur dan pewarisnya, yang terancam hilang bukan hanya sebuah nyanyian, melainkan juga nilai, kenangan, dan kearifan yang selama ini tumbuh bersama kehidupan masyarakat.
Catatan redaksional: Naskah telah disusun dengan unsur 5W+1H dan pendekatan humanis. Sebelum diterbitkan, sebaiknya lengkapi tanggal pelaksanaan kegiatan serta verifikasi nama resmi program, jabatan narasumber, dan penulisan “Amulet Unisi”. Tanggal dan sejumlah rincian kegiatan tidak dicantumkan karena belum tersedia dalam bahan yang diberikan.