Perempuan Tidak Harus Memilih: Antara Karier, Keluarga, dan Hak untuk Tetap Menjadi Manusia

Kamis, 10 September 2026

Oleh: Nadia Deby Sukanti, S.Sos (Pemerhati sosial)

SIBERONE.COM - Ada satu fase dalam kehidupan perempuan ketika ia merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan.

Di satu jalan, ada karier, cita-cita, pendidikan, pekerjaan, dan keinginan untuk menjadi seseorang yang mandiri. Di jalan lainnya, ada keluarga, pasangan, anak, rumah, dan berbagai tanggung jawab yang tidak pernah benar-benar memiliki jam pulang.

Persimpangan itu tidak selalu terlihat. Ia tidak berbentuk jalan raya atau papan penunjuk arah. Ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil setiap hari: Haruskah saya mengambil lembur? Apakah anak saya akan baik-baik saja jika saya bekerja? Apakah saya terlalu sibuk mengejar karier? Apakah saya sudah menjadi istri yang baik? Apakah saya ibu yang cukup baik?

Pada titik tertentu, perempuan bukan hanya berhadapan dengan tuntutan untuk berhasil. Ia juga berhadapan dengan tuntutan untuk menjadi sempurna.

Padahal, perempuan adalah manusia, bukan mesin yang dirancang untuk memenuhi seluruh ekspektasi sekaligus.

Ketika Perempuan Memasuki Dunia Kerja

Dalam Islam, perempuan memiliki kedudukan yang mulia. Salah satu hadis yang sangat dikenal menyebutkan kedudukan ibu dengan penghormatan yang begitu tinggi. Namun, kemuliaan tersebut seharusnya tidak diterjemahkan sebagai beban bahwa perempuan harus sanggup melakukan segala sesuatu tanpa batas.

Perempuan memiliki hak untuk tumbuh, belajar, bekerja, berkarya, dan berkontribusi di ruang publik.

Namun, realitas partisipasi perempuan dalam dunia kerja masih menghadirkan persoalan. World Bank mencatat bahwa sekitar 53,5 persen perempuan usia kerja di Indonesia berada dalam angkatan kerja, jauh di bawah rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik yang mencapai 67,7 persen. Salah satu persoalan yang disoroti adalah beban pengasuhan anak yang dapat membatasi keputusan perempuan untuk masuk atau bertahan di pasar kerja.

Angka tersebut bukan sekadar statistik.

Di baliknya ada perempuan yang harus menghitung ulang waktu, tenaga, biaya pengasuhan, jarak tempat kerja, kebutuhan anak, hingga dukungan keluarga sebelum memutuskan menerima sebuah pekerjaan.

Dengan kata lain, keputusan perempuan untuk bekerja tidak pernah benar-benar hanya tentang pekerjaan.

Ketika Satu Peran Bertambah Menjadi Tiga

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika seorang perempuan menikah.

Ia tidak lagi hanya menjadi seorang anak dan pekerja. Ia dapat sekaligus menjadi istri dan ibu. Masing-masing peran membawa tuntutan, harapan, dan tanggung jawab yang berbeda.

Di sinilah muncul apa yang dalam psikologi dikenal sebagai work-family conflict atau konflik antara pekerjaan dan keluarga.

Seorang perempuan dapat dituntut profesional di kantor, tetapi pada saat yang sama diharapkan hadir secara emosional di rumah. Ia harus mengejar target pekerjaan, tetapi juga memastikan anak makan dengan baik. Ia harus mengikuti rapat, tetapi mungkin juga harus memikirkan jadwal imunisasi anak. Ia dituntut produktif, tetapi juga harus memastikan rumah tetap berjalan.

Masalahnya bukan semata-mata karena perempuan memiliki banyak peran.

Masalah muncul ketika berbagai peran tersebut menuntut waktu, energi, dan perhatian pada saat yang bersamaan.

Penelitian terhadap perempuan bekerja di Indonesia menunjukkan adanya hubungan antara konflik pekerjaan-keluarga dengan tekanan psikologis. Studi terhadap 178 perempuan menikah yang bekerja sebagai pegawai negeri menemukan bahwa konflik pekerjaan-keluarga berkorelasi positif dengan psychological strain.

Penelitian lain terhadap perempuan yang bekerja di sektor perbankan di Pekanbaru juga menunjukkan bahwa tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga yang berlebihan dapat berkaitan dengan work-family conflict dan burnout.

Dengan demikian, persoalan ini bukan sekadar keluhan perempuan yang "tidak pandai membagi waktu".

Ada persoalan struktural dan psikologis yang jauh lebih kompleks di dalamnya.

Ketika Perempuan Dituntut Menjadi "Sempurna"

Barangkali salah satu beban terbesar perempuan modern bukanlah banyaknya pekerjaan, melainkan banyaknya standar yang harus dipenuhi.

Perempuan harus memiliki karier yang baik.

Menjadi istri yang perhatian.

Menjadi ibu yang hadir.

Menjaga rumah.

Menjaga penampilan.

Tetap produktif.

Tetap ramah.

Tetap sabar.

Dan, yang paling melelahkan, seolah-olah ia tidak boleh mengeluh.

Ketika seorang perempuan berhasil dalam karier tetapi anaknya sakit, ia dapat merasa bersalah.

Ketika ia memilih keluarga dan kariernya melambat, ia dapat merasa tertinggal.

Ketika ia meminta bantuan, ia khawatir dianggap tidak mampu.

Ketika ia merasa lelah, ia sering kali justru menyalahkan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, perempuan tidak hanya membawa tas kerja ketika pulang ke rumah. Ia juga membawa daftar pekerjaan yang belum selesai, kekhawatiran tentang anak, kebutuhan pasangan, pekerjaan rumah, dan rasa bersalah karena merasa belum melakukan semuanya dengan cukup baik.

Di sinilah kesehatan mental menjadi persoalan yang tidak boleh diabaikan.

Ketika Lelah Tidak Lagi Sekadar Lelah

Stres yang berlangsung terus-menerus dapat membawa seseorang menuju kondisi kelelahan yang lebih serius.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan burnout sebagai fenomena akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. WHO menjelaskan tiga karakteristik utama burnout: kelelahan atau terkurasnya energi, meningkatnya jarak mental atau sikap negatif terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional.

Artinya, burnout bukan sekadar "sedang malas bekerja".

Ia adalah sinyal bahwa seseorang telah berada terlalu lama dalam tekanan kerja yang tidak terkelola.

Pada perempuan yang menjalani banyak peran, tekanan tersebut dapat menjadi semakin rumit ketika persoalan pekerjaan dibawa pulang ke rumah dan persoalan rumah terbawa ke tempat kerja.

Sebuah penelitian terhadap perempuan menikah yang bekerja di Indonesia menemukan bahwa dukungan pasangan, dukungan atasan, dan dukungan domestik memiliki peran dalam memprediksi konflik pekerjaan-keluarga.

Temuan ini memberikan satu pesan penting:

Perempuan tidak seharusnya berjuang sendirian.

Jadi, Haruskah Perempuan Memilih?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: haruskah perempuan memilih antara karier dan keluarga?

Saya kira, pertanyaan itu sendiri perlu kita ubah.

Mengapa perempuan yang harus selalu memilih?

Mengapa bukan tempat kerja yang belajar menjadi lebih manusiawi?

Mengapa bukan keluarga yang belajar berbagi tanggung jawab?

Mengapa bukan suami dan istri yang bersama-sama membangun rumah tangga?

Mengapa keberhasilan seorang perempuan harus selalu dibayar dengan rasa bersalah?

Perempuan tidak membutuhkan dunia yang mengatakan bahwa ia harus mampu melakukan semuanya.

Perempuan membutuhkan lingkungan yang memungkinkan ia menjalani hidup dengan sehat.

Ia membutuhkan tempat kerja yang memahami bahwa pekerja juga memiliki kehidupan di luar kantor. Ia membutuhkan keluarga yang tidak memandang pekerjaan domestik sebagai tanggung jawab otomatis perempuan. Ia membutuhkan pasangan yang hadir bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai rekan dalam menjalani kehidupan.

Dan lebih dari itu, perempuan membutuhkan izin untuk menjadi manusia.

Manusia yang boleh lelah.

Manusia yang boleh meminta bantuan.

Manusia yang boleh memiliki cita-cita.

Manusia yang boleh mencintai keluarganya sekaligus mencintai pekerjaannya.

Di Mana Peran Suami?

Pada akhirnya, pembicaraan tentang perempuan bekerja tidak lengkap jika hanya meminta perempuan belajar mengatur waktu.

Sebab rumah tangga adalah kehidupan bersama.

Jika seorang istri bekerja sepanjang hari dan pulang ke rumah untuk kembali bekerja tanpa jeda, sementara suami menganggap pekerjaan rumah sebagai "tugas istri", maka yang terjadi bukan keseimbangan, melainkan perpindahan beban.

Dukungan suami bukan sekadar kalimat, "Saya mendukung kamu bekerja."

Dukungan itu juga dapat hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: membantu mengurus anak, berbagi pekerjaan rumah, mendengarkan ketika pasangan sedang lelah, memahami tekanan pekerjaan, memberi ruang untuk beristirahat, dan tidak menjadikan pencapaian karier istri sebagai ancaman bagi harga dirinya.

Sebab pernikahan bukan kompetisi tentang siapa yang paling banyak berkorban.

Pernikahan adalah kerja sama tentang bagaimana dua manusia dapat saling menjaga agar keduanya tetap bertumbuh.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya kepada perempuan, "Bagaimana kamu bisa menjalankan semuanya?"

Dan mulai bertanya kepada keluarga, tempat kerja, pasangan, bahkan masyarakat:

"Apa yang bisa kita lakukan agar perempuan tidak harus menjalankan semuanya sendirian?"

Sebab di balik perempuan yang terlihat kuat, bisa jadi ada seseorang yang sedang berjuang keras agar tidak runtuh.

Dan mungkin, persoalan terbesar bukanlah apakah perempuan mampu berdiri di antara karier dan keluarga.

Persoalannya adalah:

sampai kapan kita akan meminta perempuan berdiri sendirian di persimpangan itu?

Bersambung: Peran Suami dalam Menjaga Kesehatan Mental Perempuan di Tengah Tuntutan Karier dan Keluarga.

 

Oleh: Nadia Deby Sukanti, S.Sos

(Pemerhati sosial)