Sudah Sepi Permintaan, Harga di Negara Tujuan Turun Terus, Eksportir Kelapa Bulat dalam Tekanan

Jumat, 03 Juli 2026

- Sudah Sepi Permintaan, Harga di Negara Tujuan Turun Terus, Eksportir Kelapa Bulat dalam Tekanan

SIBERONE.COM – Industri ekspor kelapa bulat nasional tengah menghadapi badai ketidakpastian. Para eksportir kelapa bulat melaporkan penurunan harga yang sangat drastis, dengan nilai jual saat ini menyusut lebih dari 50 persen jika dibandingkan dengan harga tertinggi pada tahun lalu.

Kondisi lesu ini dipicu oleh anjloknya permintaan dari pasar utama internasional, khususnya Tiongkok. Berdasarkan keterangan pelaku usaha eksportir, fenomena ini tidak lepas dari melimpahnya pasokan kelapa dari negara kompetitor, terutama Vietnam.

"Banyak buyer(pembeli) dari Tiongkok yang menghentikan atau mengurangi pembelian dari Indonesia karena mereka beralih ke kelapa asal Vietnam. Saat ini, stok kelapa dari Vietnam sedang melimpah di pasar Tiongkok dengan harga yang jauh lebih murah," ungkap Loleng  eksportir kelapa bulat, kepada media, Kamis  (02/07/26).

Menurut Loleng, penurunan permintaan yang terjadi pada semester pertama 2026 sebenarnya merupakan siklus rutin tahunan. Namun, efeknya pada tahun ini terasa jauh lebih berat karena harga kelapa di tingkat eksportir ikut merosot tajam mengikuti dinamika pasar di negara tujuan. Harga kelapa bulat turun terus di negara tujuan, dan buyer(pembeli) terus menekan harga, karena permintaan juga turun. 

Selain faktor kompetisi harga, para eksportir juga dihadapkan pada tantangan biaya operasional. "Tingginya biaya logistik, termasuk kenaikan harga sewa kontainer, membuat margin keuntungan menjadi sangat tipis. Kami harus berjuang keras agar tetap bisa bersaing dengan harga yang ditawarkan oleh eksportir dari Vietnam," tambahnya.

Hingga kini juga tak ada pembatasan atau larangan ekspor kelapa bulat dari pemerintah Indonesia. Juga tak  ada pajak atau pungutan yang dilakukan untuk ekspor kelapa bulat. Sehingga murni karena tekanan global. Harga kelapa di semua negara produsen kelapa sedang turun drastis, akibat minimnya permintaan dan ketidakpastian ekonomi akibat ketegangan geopolitik.

Menanggapi anggapan bahwa harga kelapa di tingkat petani ditentukan secara sepihak oleh perusahaan atau eksportir, Loleng dengan tegas membantahnya. “Harga sepenuhnya dikendalikan oleh mekanisme supply and demand (penawaran dan permintaan) yang ditentukan oleh buyer (pembeli) di negara tujuan, khususnya Tiongkok,”jelas Loleng.

"Kami tidak bisa memaksakan pengiriman jika tidak ada permintaan dari sana. Kendali utama harga ada di tangan pasar luar negeri. Selain itu, faktor panen di tingkat domestik juga ikut memberikan pengaruh terhadap fluktuasi harga," jelasnya.

Dalam kondisi pasar yang sedang tertekan, para eksportir kini lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan. Langkah efisiensi terpaksa dilakukan dengan membatasi kuota pengiriman untuk menghindari kerugian lebih dalam.

Para eksportir kelapa bulat dalam negeri kini hanya bisa berharap agar kondisi ekonomi dan daya beli pabrik-pabrik di Tiongkok serta Thailand segera pulih. Sehingga aktivitas ekspor kelapa bulat bisa normal kembali.