
Dr. Junaidi, S.H.I., M.Hum
SIBERONE.COM - Pada masa lalu, seseorang rela menempuh perjalanan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, hanya untuk menemui seorang guru dan mempelajari satu bab ilmu. Hari ini, jutaan informasi tersedia dalam genggaman tangan. Ceramah, buku, jurnal, fatwa, dan berbagai pengetahuan dapat diakses dalam hitungan detik. Namun ironisnya, di tengah melimpahnya informasi tersebut, manusia justru semakin kehilangan guru.
Kita hidup di zaman ketika banyak orang merasa tidak lagi membutuhkan bimbingan. Mesin pencari dianggap cukup menggantikan ulama. Potongan video dianggap cukup menggantikan kajian yang mendalam. Media sosial dianggap cukup menggantikan proses belajar yang panjang dan berjenjang.
Akibatnya, lahirlah apa yang dapat disebut sebagai "masyarakat tanpa guru", yaitu masyarakat yang memiliki banyak informasi tetapi miskin pengarahan. Mereka mengetahui banyak hal, tetapi sering kali tidak memahami hakikat dari apa yang diketahuinya.
Dalam tradisi keilmuan Islam, guru bukan sekadar penyampai pengetahuan. Guru adalah pembimbing akal, penjaga adab, sekaligus teladan dalam kehidupan. Karena itu para ulama terdahulu lebih menekankan adab sebelum ilmu.
Imam Malik pernah berkata:
«"Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu."»
Nasihat ini menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya persoalan mengetahui, tetapi juga persoalan bagaimana ilmu itu membentuk karakter dan kebijaksanaan.
Masyarakat tanpa guru sering kali terjebak pada ilusi pengetahuan. Mereka merasa memahami suatu persoalan hanya karena telah membaca beberapa artikel atau menonton beberapa video pendek. Padahal pengetahuan yang terpotong-potong sering kali melahirkan kesimpulan yang keliru.
Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan beragama. Banyak orang berani berbicara tentang hukum Islam, mengeluarkan penilaian terhadap orang lain, bahkan menyimpulkan persoalan-persoalan besar hanya berdasarkan informasi yang diperoleh secara instan. Padahal para ulama menghabiskan puluhan tahun untuk mempelajari satu bidang ilmu sebelum berani berbicara di hadapan masyarakat.
Lebih jauh lagi, hilangnya peran guru juga menyebabkan hilangnya sanad keilmuan. Dalam Islam, ilmu tidak hanya dinilai dari isi yang disampaikan, tetapi juga dari siapa yang menyampaikan dan bagaimana ilmu tersebut diwariskan. Sanad menjaga agar ilmu tidak terlepas dari sumber yang benar dan tidak tercampur dengan hawa nafsu atau kesalahan pemahaman.
Abdullah bin Mubarak pernah mengatakan:
«"Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, maka siapa pun dapat berkata apa saja atas nama agama."»
Perkataan ini terasa semakin relevan pada era media sosial. Hari ini siapa saja dapat berbicara, tetapi tidak semua orang memiliki kapasitas untuk menjadi rujukan.
Fenomena masyarakat tanpa guru juga berdampak pada karakter. Informasi dapat mengisi pikiran, tetapi guru membentuk kepribadian. Buku dapat memberikan pengetahuan, tetapi keteladanan guru mengajarkan kebijaksanaan. Teknologi dapat mempercepat akses belajar, tetapi tidak mampu menggantikan sentuhan moral dan spiritual yang diberikan oleh seorang pendidik.
Karena itu, tantangan terbesar manusia modern bukanlah mencari informasi, melainkan menemukan bimbingan yang benar di tengah lautan informasi. Kita memerlukan guru yang tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi juga bagaimana berpikir dengan benar.
Pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh banyaknya informasi yang dimiliki manusia, melainkan oleh hadirnya guru-guru yang membimbing manusia menggunakan ilmu tersebut secara bijaksana.
Sebab informasi dapat menjadikan seseorang pintar, tetapi hanya guru yang mampu membantu seseorang menjadi bijaksana.
Penulis: Dr. Junaidi, S.H.I., M.Hum