Masyarakat Tanpa Malu: Ketika Dosa Tidak Lagi Disembunyikan

Sabtu, 06 Juni 2026

Dr. Junaidi, S.H.I., M. Him Dosen Unisi dan Komisioner BAZNAS inhil. (Sumber foto:wartawan SIBERONE.com/Nia Nismaini)

SIBERONE. COM - Pada masa lalu, seseorang yang melakukan kesalahan cenderung berusaha menutupinya. Bukan karena ia bangga terhadap perbuatannya, melainkan karena masih ada rasa malu yang hidup di dalam hatinya. Hari ini, keadaan itu perlahan berubah. Kita menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan: sebagian orang bukan hanya tidak malu melakukan kemaksiatan, tetapi justru merasa bangga memperlihatkannya kepada publik.

Media sosial menjadi panggung yang memperlihatkan gejala tersebut. Apa yang dahulu dianggap aib kini dipertontonkan. Apa yang dahulu disembunyikan kini dipublikasikan. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan pelanggaran moral sebagai bahan candaan, hiburan, dan sarana mencari popularitas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan terbesar masyarakat modern bukan sekadar meningkatnya jumlah pelanggaran moral, tetapi melemahnya rasa malu terhadap pelanggaran tersebut.

Dalam Islam, rasa malu bukanlah kelemahan. Justru ia merupakan bagian dari keimanan. Rasulullah SAW bersabda:

«"Malu adalah bagian dari iman."

(HR. Bukhari dan Muslim)»

Hadis ini menunjukkan bahwa rasa malu memiliki hubungan yang sangat erat dengan kualitas keimanan seseorang. Semakin hidup keimanan dalam hati, semakin kuat pula rasa malu ketika melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah.

Sebaliknya, ketika rasa malu mulai hilang, manusia akan semakin berani melanggar batas-batas yang telah ditetapkan agama. Karena itu Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat tajam:

«"Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu."

(HR. Bukhari)»

Hadis ini bukanlah perintah, melainkan peringatan. Maksudnya, ketika rasa malu telah hilang, tidak ada lagi penghalang moral yang mampu menahan seseorang dari berbagai bentuk keburukan.

Masyarakat tanpa malu tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui proses normalisasi yang panjang. Ketika kemaksiatan terus-menerus ditampilkan, masyarakat menjadi terbiasa melihatnya. Ketika pelanggaran moral berulang kali dianggap lumrah, sensitivitas hati perlahan menurun. Akhirnya, sesuatu yang dahulu dianggap salah berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Lebih berbahaya lagi, budaya tanpa malu sering kali dibungkus dengan istilah-istilah yang terdengar indah. Kebebasan, ekspresi diri, hak pribadi, dan modernitas terkadang digunakan untuk membenarkan perilaku yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai agama dan moral.

Padahal kebebasan yang sejati bukanlah kemampuan melakukan apa saja yang diinginkan, melainkan kemampuan mengendalikan diri dari sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.

Dalam perspektif sosial, hilangnya rasa malu juga berdampak pada kehidupan publik. Korupsi dilakukan tanpa rasa bersalah. Kebohongan disampaikan tanpa beban. Fitnah disebarkan tanpa penyesalan. Janji diingkari tanpa rasa berdosa. Ketika rasa malu hilang, hukum mungkin masih mampu mengawasi manusia, tetapi hati nurani tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia memiliki cahaya yang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Namun ketika dosa dilakukan berulang-ulang tanpa penyesalan, cahaya tersebut perlahan redup. Pada saat itulah seseorang tidak lagi merasa terganggu oleh perbuatan yang dahulu membuatnya gelisah.

Karena itu, peradaban tidak mulai runtuh ketika manusia melakukan kesalahan. Peradaban mulai runtuh ketika manusia tidak lagi merasa malu terhadap kesalahan tersebut.

Maka tugas kita hari ini bukan hanya menghindari dosa, tetapi juga menjaga kepekaan hati agar tetap hidup. Sebab selama rasa malu masih ada, pintu taubat masih terbuka. Selama hati masih merasa bersalah, masih ada harapan untuk kembali kepada jalan yang benar.

Namun ketika dosa dipertontonkan, dibanggakan, dan dianggap biasa, yang sedang terancam bukan hanya moral individu, melainkan masa depan sebuah masyarakat.

Pada akhirnya, rasa malu bukanlah penghalang kemajuan. Justru rasa malu adalah benteng terakhir yang menjaga manusia agar tetap menjadi manusia.

Penulis: Dr. Junaidi, S.H.I., M.Hum.