
Dr. Junaidi, S.H.I., M. Him dosen dan komisioner baznas inhil (sumber foto: wartawan SIBERONE/Nia Nismaini).
SIBERONE.COM - Di era media sosial, manusia tidak lagi sekadar hidup, tetapi juga menampilkan kehidupannya. Hampir setiap aktivitas memiliki peluang untuk dipublikasikan, mulai dari makanan yang disantap, tempat yang dikunjungi, hingga ibadah yang dilakukan. Fenomena ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai "masyarakat pencitraan", yaitu masyarakat yang lebih sibuk membangun kesan daripada membangun kualitas diri yang sesungguhnya.
Dalam pemikiran filsuf Prancis Jean Baudrillard, masyarakat modern hidup dalam dunia simulasi, yaitu dunia yang lebih mementingkan citra daripada realitas. Apa yang tampak sering kali dianggap lebih penting daripada apa yang sebenarnya terjadi. Akibatnya, batas antara kenyataan dan penampilan menjadi semakin kabur.
Fenomena tersebut terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang berlomba-lomba menunjukkan kesuksesan, kebahagiaan, dan kemewahan hidup melalui media sosial. Yang ditampilkan adalah senyum, prestasi, dan pencapaian. Namun, tidak sedikit yang menyembunyikan kecemasan, kesepian, bahkan masalah yang sedang dihadapi. Kehidupan akhirnya berubah menjadi panggung besar tempat setiap orang memainkan perannya masing-masing.
Dalam masyarakat pencitraan, ukuran keberhasilan sering kali bergeser. Seseorang dianggap sukses bukan karena kualitas keilmuan, integritas, atau kontribusinya kepada masyarakat, melainkan karena seberapa menarik citra yang berhasil dibangun. Popularitas perlahan menggantikan kapabilitas, sementara penampilan mengalahkan substansi.
Ironisnya, budaya pencitraan juga merambah wilayah moral dan spiritual. Kebaikan terkadang dilakukan bukan semata-mata karena kesadaran, melainkan karena adanya peluang untuk mendapatkan pengakuan. Sedekah, kegiatan sosial, bahkan ibadah terkadang lebih sibuk didokumentasikan daripada dihayati. Padahal nilai sebuah amal tidak terletak pada seberapa banyak orang yang melihatnya, tetapi pada ketulusan yang melandasinya.
Masyarakat pencitraan juga melahirkan tekanan psikologis yang tidak ringan. Banyak orang merasa harus selalu terlihat bahagia, sukses, dan sempurna. Mereka takut menunjukkan kelemahan karena khawatir kehilangan pengakuan sosial. Akibatnya, lahirlah generasi yang kaya citra tetapi miskin ketenangan batin.
Dalam perspektif agama, kejujuran terhadap diri sendiri merupakan fondasi utama kehidupan yang sehat. Islam mengajarkan pentingnya keikhlasan, yaitu melakukan sesuatu bukan untuk dipuji manusia, melainkan karena kesadaran moral dan tanggung jawab kepada Allah SWT. Keikhlasan menjadi lawan dari pencitraan yang berlebihan.
Karena itu, tantangan manusia modern bukanlah bagaimana terlihat hebat di hadapan orang lain, melainkan bagaimana menjadi pribadi yang benar-benar baik meskipun tidak selalu mendapatkan perhatian. Dunia mungkin terpesona oleh penampilan, tetapi kehidupan yang bermakna selalu dibangun oleh keaslian.
Pada akhirnya, masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang sibuk menciptakan citra, melainkan masyarakat yang menghargai substansi. Sebab karakter tidak dibentuk oleh apa yang kita tampilkan kepada publik, tetapi oleh siapa diri kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Oleh: Dr. Junaidi, S.H.I., M.Hum, Dosen dan Komisioner Baznas Inhil.