
Dr. Junaidi, S.H.I., M. Hum, Dosen dan Komisioner Baznas Inhil.
SIBERONE.COM - Di era digital saat ini, manusia hidup dalam arus informasi yang tidak pernah berhenti. Setiap detik muncul berita baru, isu baru, perdebatan baru, dan tren baru yang memenuhi ruang kesadaran kita. Akibatnya, banyak orang merasa selalu terhubung dengan dunia, tetapi pada saat yang sama kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.
Dalam salah satu kajiannya, Dr. Fahruddin Faiz mengangkat gagasan yang diinspirasikan dari kritik filsafat kontemporer terhadap masyarakat modern. Ia mengibaratkan kondisi sosial hari ini sebagai "masyarakat epilepsi". Istilah ini menggambarkan masyarakat yang terus-menerus mengalami guncangan akibat ledakan informasi dan rangsangan yang datang tanpa henti.
Seperti penderita epilepsi yang mengalami kejang akibat impuls yang tidak terkendali, masyarakat modern juga sering mengalami "kejang sosial". Ketika sebuah isu viral muncul, perhatian publik secara serentak tersedot ke sana. Emosi meledak, komentar berhamburan, penilaian dibentuk dengan cepat, bahkan sebelum fakta dipahami secara utuh. Setelah beberapa hari, perhatian itu menghilang dan berpindah ke isu lain. Siklus ini terus berulang tanpa memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan refleksi yang mendalam.
Fenomena tersebut terlihat jelas di media sosial. Banyak orang lebih cepat membagikan informasi daripada memverifikasi kebenarannya. Banyak yang lebih tertarik pada sensasi daripada substansi. Yang penting bukan lagi memahami suatu persoalan, melainkan ikut terlibat dalam keramaian pembicaraan. Akibatnya, kualitas berpikir menjadi dangkal dan kemampuan untuk berkontemplasi semakin berkurang.
Kondisi ini berbahaya karena manusia pada akhirnya hidup berdasarkan reaksi, bukan kesadaran. Kita marah karena orang lain marah, cemas karena orang lain cemas, dan takut karena orang lain takut. Kehidupan dijalani secara otomatis mengikuti arus emosi kolektif yang terus berubah.
Padahal, salah satu ciri manusia yang matang adalah kemampuannya untuk berhenti sejenak, berpikir, dan menilai sesuatu secara proporsional. Tidak semua informasi harus ditanggapi. Tidak semua peristiwa harus menguras perhatian. Tidak semua perdebatan harus dimasuki.
Karena itu, obat bagi "masyarakat epilepsi" bukanlah menambah informasi, melainkan memperbanyak refleksi. Kita perlu belajar menyaring informasi yang masuk, membatasi konsumsi media yang berlebihan, dan menyediakan ruang hening untuk berpikir. Dalam tradisi filsafat maupun spiritualitas, keheningan bukanlah kelemahan, melainkan sumber kebijaksanaan.
Pada akhirnya, manusia tidak akan kehilangan dirinya karena kurang informasi, tetapi karena terlalu banyak informasi yang tidak bermakna. Di tengah dunia yang semakin bising, kemampuan untuk diam, merenung, dan memilih apa yang layak diperhatikan justru menjadi tanda kecerdasan yang sesungguhnya.
Tentang Penulis:
Dr. Junaidi, S.H.I., M.Hum. Tenaga Pengajar di Universitas Islam Indragiri (Unisi), Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI). Saat ini juga menjabat sebagai Komisioner Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Indragiri Hilir.